• Mengapa Saya Masuk ITP? -I’m the Next Foodsci-

    Date: 2010.12.15 | Category: Uncategorized | Response: 4

    Seperti kebanyakan siswa SMA lain yang bingung ketika dihadapkan dengan pertanyaan
    “setelah ini mau melanjut kemana?”. Demikian pula saya ketika dihadapkan dengan pertanyaan seperti itu. Sampai akhirnya saya masuk dan diterima di ITP melalaui jalur USMI. Padahal sebelumnya saya belum tahu apa itu ITP, bagaimana keadaan mahasiswa dan civitas akademinya, bagaimana kehidupan kampus di sana.

    Pemilihan universitas dan jurusan sangat menentukan masa depan seseorang. Dengan dihadapkan dengan begitu banyak pilihan universitas dan jurusan di Indonesia, awalnya saya bingung untuk menentukan pilihan. Sampai akhirnya saya bertemu dengan USMI, saya mulai tersadar untuk mulai bersiap untuk menjatuhkan pilihan studi dan karier karena umur saya di SMA sudah hampir habis. Persiapan untuk mengikuti tes masuk perguruan tinggi memang sudah dipersiapkan. Tapi permasalahan mengenai mau masuk kemana tidak pernah bisa terputuskan.

    Sama seperti orang tua lainnya, kedua orang tua saya pun ikut pusing dengan sikap saya yang belum bisa memutuskan pilihan melanjut kemana. Dan akhirnya bukannya membantu malah memperkeruh pikiran saya, ketika akhirnya mereka berdua mengambil sikap untuk mencoba memberikan solusi. Masing-masing mereka mulai mengenalkan pilihan-pilihan karier dan universitas kepada saya. Pilihan-pilihan itu memusingkan yang bukan hanya karena masing-masing dari mereka berbeda, namun juga karena pilihan itu berubah seiring berjalannya waktu. Ibu maunya apa, bapak maunya apa, dan saya masih bingung mau jadi apa. Besoknya beda lagi, ibu maunya apa, bapak maunya apalagi, hahahaha, saya semakin bingung mau jadi apa lagi.

    Akhirnya saya pun berniat untuk mengajukan diri ke IPB melalui jalur USMI – padahal kedua orang tua saya tidak pernah berharap saya masuk IPB – diakhir-akhir waktu pengiriman berkas karena saya tidak pernah melirik dan tertarik ikut USMI. Pada awalnya USMI merupakan jalur alternatif terakhir bagi saya apabila saya tidak diterima di ujian masuk perguruan tinggi mana pun. Saya pun bersemedi dan bergumul sendiri mengenai pilihan yang akan saya ambil di IPB. Ditengah kegalauan saya pun mencari tahu tentang jurusan-jurusan bagus di IPB dan akhirnya mendapat jawabannya ITP IPB. Kemudian saya mencari tahu jurusan ITP IPB, tapi saya tidak mendapat jawaban yang memuaskan dari situs itu. (blog)

    Setelah melakukan pengiriman berkas, saya mempersiapkan untuk mengikuti tes ujian masuk perguruan tinggi lainnya. Pada tes ini saya mencoba untuk mengikuti permintaan ibu saya menjadi seorang dokter. Kemudian hasil USMI diumumkan dan ternyata saya diterima. Pilihan yang awalnya hanya sebagai peluru terakhir, akhirnya menjadi pilihan pertama bagi  saya karena akhirnya saya memilih untuk tidak mengikuti ujian masuk perguruan tinggi mana pun setelah diterima di ITP. Sampai sekarang saya juga masih bingung kenapa saya mau menerima ITP.Awalnya saya ragu dengan pilihan saya sendiri, karena saya sendiri buta mengenai ITP dan mau jadi apa setelah lulus dari ITP. Hal ini pula yang membingungkan orang tua saya dengan jalan pikiran saya sendiri.

    Namun saya yakin dengan pilihan saya, karena nama ITP yang sudah dikenal sebagai departemen Teknologi Pangan terbaik di Indonesia. Dengan sejumlah prestasi yang bukan hanya di tingkat nasional. Selain itu Departemen ITP sendiri yang sudah diakui terstandardisasi oleh IFT. Satu-satunya departmen di luar Amerika Utara yang diakui. Sebuah pencapaian besar yang semakin membuat saya bangga terpilih di ITP. Hehehe.Satu hal yang membuat saya semakin yakin dengan ITP adalah karena yakin karena ITP intens mengenai masalah penting bagi kelangsungan hidup manusia, yaitu masalah makanan yang masuk ke mulut dan perut manusia. Masalah yang selalu akan sangat penting sepanjang manusia belum bisa berfotosintesis. Masalah ini seperti ruang besar yang masih luas untuk dieksplorasi. Sebuah peluang bisnis besar.

    Ternyata masalah bisnis pangan bukanlah hal terpenting dalam dunia ITP, pandangan seperti ini tergubah seiring dengan pengenalan mengenai dunia ITP. Dunia ITP sendiri ternyata lebih luas dari dunia tadi yang semata-mata hanya sebatas peluang bisnis atau sebatas lapangan pekerjaan. Anak-anak teknologi pangan juga dihadapkan dengan masalah pangan. Masalah pangan yang bukan hanya di Indonesia tetapi juga mengenai masalah pangan dunia. Masalah pangan adalah masalah perut dunia, keberlangsungan hidup manusia tergantung akan keberadaan pangan dan akses baginya. Masalah pangan bukan hanya mengenai bagaimana cara mengenai mengolah pangan menjadi makanan bermutu dan bergizi tinggi. Masalah teknologi pangan juga penting berpikir mengenai bagaimana sebuah teknologi dapat mendekatkan akses manusia dengan makanan yang bergizi dan sehat.

    haha..hal inilah yang membuat saya bangga menjadi The Next Fodscientist..

Tags